Ilmu Campuran Seputar Blog, Pendidikan & Sastra

Rabu, 22 Juni 2016

Elegi di Ujung November


Setiap kali November sampai di penghujung, ingatanku akan kembali melesat pada pesta lilin beberapa tahun silam. Seringkali aku berharap agar November cepat berlalu dengan kenangan pedih yang terus menyeruak ke permukaan. Semakin kucoba menguburnya, semakin ia menyeruak berkali-kali, menggerogoti urat-urat nadi kehidupan. Tidak. Apa yang terjadi adalah takdir Tuhan yang telah Ia tuliskan dalam lauhul mahfudz dengan tinta takdir yang telah mengering. Begitulah kucoba menenangkan diri, meski air mata kembali menggenang begitu mengingat semua ini.

**********
    27 November 2010
Pagi itu cerah. Mentari membias di cakrawala dengan sinarnya yang terang. Gumpalan awan yang menggantung di langit tampak seputih kapas. Seperti biasa, Azzam, begitulah aku memanggilnya. Kuberi ia nama Muhammad Azzam Nasrullah. Harapanku hanya satu, kelak ketika ia tumbuh dewasa ia akan menjadi pemuas dahagaku. Ia akan menjadi anak saleh yang senatiasa berbakti dan mendoakanku. Waktu itu usianya menginjak delapan tahun dan seperti tahun-tahun sebelumnya, saat hari ulang tahun tiba ia akan meminta beraneka macam hadiah kepada ayahnya, Husain suamiku. Kuas, kanvas, cat minyak dan apapun yang ia sukai. Menurutku, itu bukan hal yang berlebihan. Ia hanya akan meminta sesuatu yang berhubungan dengan hobinya, melukis. Ia tumbuh tampan seperti yang kuduga. Kulitnya putih. Matanya biru indah menawan. Ia mirip seperti suamiku. Azzam, begitulah aku memanggilnya. Ia sering menjuarai lomba azan yang diadakan di sekolah, begitu juga dengan lomba baca puisi dan menyanyi.
“Ibu, aku akan menyanyikan satu lagu istimewa untukmu nanti” bisiknya suatu malam sebelum keesokan harinya ia benar-benar pergi.
“Nanti aku akan mengajak ayah. Ibu bilang suara ayah sangat merdu”  ia terus berceloteh manja di ranjangnya. Aku hanya mengangguk kecil, berharap ia lekas menyudahi ceritanya. Tapi, aku tahu ia takkan tidur malam itu. Anakku akan terus sibuk memikirkan pesta ulang tahun yang akan diadakan keesokan harinya.
Tiba-tiba kurasakan dadaku sesak. Aku tak bisa bernapas. Pelangi yang sedari tadi tampak indah, kini warnanya perlahan memudar. Semua tampak samar di sekelilingku.

“Kau baik-baik saja, Rahma? Wajahmu pucat sekali.” Tak kusadari Mas Faruq sudah berdiri di belakangku. Kalau saja ia tak memegangi pundakku mungkin tubuhku sudah terhuyung ke lantai.
“Tenanglah. Semua akan baik-baik saja, Rahma” bisiknya mencoba menenangkan. Aku mengangguk. Aku tahu, rasa takut dan panik ini akan segera hilang begitu kubusungkan kepalaku pada dadanya yang bidang. Mas Faruq, ia suami baruku. Kami menikah tepat lima tahun yang lalu. Ia sahabat baik Mas Husain, suamiku yang pergi bersama Azzam buah hatiku. Dan lagi, ingatanku kembali mengenang pesta lilin beberapa tahun silam.

Waktu itu mereka berencana pergi untuk mencari aneka macam kue yang nantinya akan kami bagi-bagikan ke tetangga sekitar. Bukan pesta ulang tahun, hanya tasyakuran kecil. Sebenarnya acara ini kerap kami adakan setiap tahun, tepatnya di ujung November yang bertepatan dengan hari kelahiran putra pertama kami, Azzam. Tujuannya hanya satu, kami berkeinginan agar kelak ketika ia tumbuh dewasa ia bisa mensyukuri nikmat Tuhan yang seluas samudera ini dengan berbagi. Ya, itu saja. Sejak kecil aku mengajarinya untuk berbagi pada anak-anak di panti asuhan dekat rumah kami. Terkadang aku juga memintanya mengantar makanan untuk kakek tua di dekat pasar. Ia kakek yang tua renta, menjual bunga tepat di depan toko baju milik ibuku. Aku bertemu dengannya sewaktu aku bekerja di sana. Jujur saja, berbagi dengannya membuat hidupku sangat bahagia.
Lilin-lilin mulai dinyalakan, karena perkiraanku mas Husain dan Azzam akan segera tiba begitu melihat jam menunjukkan pukul setengah tiga sore. Acara akan segera dimulai. Balon berwarna-warni memenuhi ruangan. Tampak anak-anak seusia Azzam tengah menunggu suami dan anakku untuk  memulai serangkaian acara. Seperti biasa, meniup lilin, memotong kue, dan dilanjutkan dengan membagi-bagikan parcel jajan lengkap dengan peralatan sekolah yang terbungkus rapi. Di luar tampak mendung. Hujan rintik perlahan membasahi pelataran rumah. Anak-anak mulai ribut untuk mengamankan sandal dan sepatunya yang berserakan di luar gerbang untuk memasukkannya ke dalam agar tidak basah. Hujan yang tadinya hanya berupa rintik-rintik, tiba-tiba menjelma gerimis yang mengundang kelam. Hujan mengguyur deras disertai dengan petir yang menyambar. Lilin-lilin yang terkena angin hampir saja mati. Aku segera menutup pintu dan jendela-jendela rumah. Anak-anak masih setia menunggu. Lama sekali. Aku tahu suamiku bukan orang yang ceroboh. Saat ia lupa membawa jas hujan ia akan menunggu hujan hingga reda. Ia akan berteduh di teras-teras rumah yang kosong, atau di warung untuk mengusir dingin dengan menyesap kopi atau dimanapun ia bisa berteduh.
Dua jam telah berlalu. Anak-anak masih sabar menunggu. Lilin-lilin yang memenuhi ruangan tampak meleleh satu persatu. Persis seperti pesta lilin yang karam.

**********

“Suami dan anakku meninggal karena kecelakaan. Jalan licin akibat hujan deras membuat sepeda motor yang dikendarainya terpeleset dan jatuh. Mereka terpental. Truk dari arah belakang melaju dengan kecepatan tinggi melindas kaki anakku, Azzam.” Begitulah petugas ambulan menjelaskan. Aku tak banyak bertanya. Aku hanya bersegera membuka jenazahnya. Saat kutatap tubuh kaku itu satu persatu, dunia serasa runtuh. Tak ada yang kurasakan selain rasa sesak yang menusuk-nusuk dada.  Tapi aku tahu aku harus mengikhlaskan kepergian mereka. Kudapati Azzam tengah memegang kertas basah berwarna putih yang bertuliskan “Ibu, hari ini aku akan menyanyikan sebuah lagu istimewa untukmu. Aku sedih, karena Ayah sulit menghafal bait-baitnya meski sudah kunyanyikan berkali-kali. Tapi hari ini Ayah berjanji, ia akan menghafalnya untukmu, bu.” Dadaku sesak. Teramat sesak. Tak ada suara yang kudengar selain isak tangis orang-orang di sekelilingku. Aku mencintai kalian, permata hatiku.

Malang, 01 November 2015





Tidak ada komentar:

Posting Komentar